30 August 2011
15 April 2009
Aktualisasi Diri Ditemukan Dalam Pelayanan
Pada masa kini, aktualisasi diri menjadi perhatian penting. Tetapi aktualisasi diri, menjadi sesuatu atau seseorang di dunia ini, dan pelayananan kepada orang lain merupakan dua sisi pada satu koin yang sama. Dengan kata lain, jika Anda ingin Allah mengakui Anda dalam kekekalan, dan bahkan mungkin ingin dunia mengingat Anda setelah Anda meninggal, maka Allah dan dunia akan melakukannya, bukan karena apa yang telah Anda lakukan terhadap diri Anda sendiri, melainkan karena apa yang telah Anda perbuat bagi orang lain. Dorong lah diri anda mengutamakan kepentingan orang lain. Putuskan untuk melakukan sesuatu bagi Allah dan bagi kebutuhan dunia — bahkan dengan mengetuk pintu rumah orang lain pada waktu yang sangat tidak menyenangkan.
Perhatikan bagaimana Lukas 11:8 berakhir: “Aku berkata kepadamu [Tuhan yang berkata]: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukan- nya.” Sikap tidak malu di sini berasal dari kata Yunani anaideia, yaitu sikap yang terus menerus mengenyampingkan kenyamanan dan kesenangan orang lain.
Anda Boleh Meminta Sebanyak Yang Anda Perlukan
“Apa yang diperlukannya” — itu yang pokok. Tuhan tidak pernah berjanji untuk memberikan kepada kita semua yang kita inginkan, tetapi hanya berjanji memenuhi keperluan kita. Sahabat dari orang tadi (dalam perumpamaan ini) tidak memberikan kepada sahabatnya itu apa saja untuk cadangan. Ia hanya memberikan yang diperlukan untuk menunaikan tugasnya bagi kepentingan orang lain.
Tidak ada sesuatu pun yang setengah penting dalam pelayanan terhadap orang lain. Semuanya penting, dan untuk itu kita mempunyai akses ke dalam sumber-sumber Allah. Inilah salah satu ajaran dasar perumpamaan ini. Anda dapat mencapai apa yang menjadi tugas Anda, tetapi juga bisa Anda merasa tidak dapat memenuhinya. Ingatlah bahwa ada Satu Pribadi yang dapat Anda mintai pertolongan —Allah— dan Ia akan selalu memberikan kepada Anda, bukan apa yang Anda inginkan melainkan apa yang Anda perlukan.
Tentu saja, perumpamaan ini tidak hendak menunjukkan bahwa Allah tertidur atau tidak mau membantu, seperti yang dilakukan oleh si sabahat, tetapi bahwa kita bisa dengan berani meminta pertolongan kepada-Nya tatkala kita berada dalam keadaan terdesak untuk menolong orang lain. Tatkala kita merasakan dorongan untuk memperhatikan kepentingan orang lain, tatkala kita meraksa bahwa kesejahteraan orang lain tergantung kepada kita, maka kita akan menggedor gerbang sorga.
Berapa banyak doa yang Anda panjatkan atas nama dan demi keperluan orang lain dan berapa banyak doa yang Anda naikkan atas nama dan demi kepentingan Anda sendiri? Coba lakukan sedikit penghitungan untuk hari ini, dan selidikilah apakah Anda seperti orang yang suka mendesak dan menyusahkan sahabatnya ini. Ia tidak meminta untuk dirinya sendiri tetapi untuk orang lain. Jangan takut datang kepada Allah dan berkata, “Tuhan, aku tidak mempunyai sesuatu untuk dipersembahkan, tetapi Engkau memiliki apa yang aku perlukan sehingga aku bisa melayani.” Tidak perlu takut-takut atau malu-malu atau merasa lancang; tidak ada pertanyaan tanpa batas waktu yang akan menahan Anda. Anda dapat datang kepada Allah setiap saat Anda mau. Anda tidak akan mengganggu Dia. Anda tidak akan membuat Dia merasa tidak nyaman dan tidak senang dengan kedatangan Anda. Telinga-Nya selalu terbiasa dengan tangisan dan teriakan Anda.
Sekarang, bawa hal itu ke dalam alam rohani dan Anda akan mendapati bahwa hal itu tragis — Anda membiarkan sahabat Anda tatkala ia mempercayai Anda. Namun Allah tidak pernah membiarkan Anda. Ia dapat menjadi tempat bergantung, menjadi sandaran dan andalan. Tetapi pertanya- annya ialah, apakah Anda dapat dipercayai? Apakah Anda dapat diandalkan? Apakah saya dapat dipercayai? Apakah saya dapat diandalkan? Akankah kita membiarkan mereka yang bergantung pada kita? Apakah Anda mau mengetuk pintu? Apakah Anda mau mencari? Apakah Anda mau meminta kepada Allah demi dan atas nama orang lain? Jika Anda sungguh mengasihi sahabat Anda, Anda pasti mau. Dorongan dan desakan untuk meminta demi orang lain ada di sana. Anda akan mengetuk sampai pintu dibukakan bagi Anda. Anda akan berusaha mencari sampai Anda mendapatkan. Anda akan meminta dan meminta dan meminta sampai Anda menerima. Kasih adalah pelarut terbaik bagi keraguan Anda, sebagaimana juga merupakan ujian bagi kepraktisan Anda. Kasih akan menggerakkan Anda untuk terus menerus meminta kepada Allah dan manusia untuk menjadi bantuan bagi sahabat Anda. Anda mungkin menguatirkan orang banyak pada titik kejengkelan, tetapi Allah tidak akan pernah. Anda tidak perlu kuatir jangan-jangan Allah gusar dan jengkel pada sikap Anda yang mendesak dan tidak malu-malu. Dan pada akhirnya, mereka akan menanggapi sebagaimana orang ini menanggapi sahabatnya yang mengganggu pada tengah malam; dan mereka akan menanggapi dengan senang hati; karena pada dasarnya Allah dan manusia suka didesak unutuk melayani. Allah ada di (sorga) sana untuk melayani mereka yang mencari Dia dengan iman, dan kita ada di (dunia) sini untuk melayani Dia dengan cara melayani orang lain dalam nama-Nnya. Perumpamaan ini adalah perumpamaan tentang “Seberapa banyak lagi.” “Seberapa banyak lagi Allah dengan setia memenuhi kebutuhan Anda, jika manusia saja dapat memenuhi kebutuhan sesamanya yang lain.” Percayalah dan lakukanlah. “Mintalah, maka kamu akan menerima.”
Renungkan:
1. Apakah “melakukan segala sesuatu bagi kepentingan Anda sendiri” merupakan sasaran tertinggi Anda dalam hidup Anda? Mengapa atau mengapa tidak?
1. Seberapa banyak kita boleh meminta kepada Allah? Apakah ada batas permintaan?
2. Bagaimana cara yang paling baik bagi kita untuk melayani Allah?
3. Siapa yang akan mempedulikan keperluan-keperluan kita?
